Tari Legong Keraton adalah salah satu tari kelasik yang dipercaya sebagai sumber inspirasi munculnya tari-tari kreasi baru di Bali. Tari Legong adalah berasal dari desa Sukawati, yaitu di Puri Paang Sukawati.
Dari Sukawati legong berkembang kebergagai pelosok desa di Bali seperti; di Puri Agung desa Saba ( sekarang di Puri Taman Saba), di Peliatan, di Bedulu, di Benoh Denpasar, dan lain sebagainya. Di desa Saba yaitu di Puri Saba tari legong keraton, menurut I Gusti Gede Raka sudah ada sekitar tahun 1911, dibawah pimpinan serta asuhan I Gusti Gede Oka yang bergelar Anak Agung di desa Saba, yaitu kakek beliau sendiri. IGusti Gede Oka dengan membawa calon penari datang ke Sukawati, belajar tari legong di desa Sukawati yaitu di Puri Paang, dengan guru tarinya pada waktu itu adalah Anak Agung Rai Perit. Di atas tahun 1920-an kepemimpinan sekha legong di Saba yang juga merangkap sebagai pelatih dan pembina seka legong di Saba adalah putra beliau bernama I Gusti Bagus Jelantik sampai tahun 1940-an, yang mana beliau juga belajar di Puri paang Sukawati. Di atas tahun 1945-an kepemimpinan sekha legong yang juga merangkap sebagai pelatih dan pembina adalah I Gusti gede Raka yaitu keponakan dari I Gusti Bagus Jelantik, yang lebih dikenal dengan sebutan Anak Agung Raka Saba, karena beliau adalah orang Puri.
Tari Legong Keraton Saba dibawah binaan Agung Raka membawa nama tari Legong Keraton Saba sangat terkenal diseluruh Bali, dan juga di manca negara. Sekha Legong Keraton dibawah asuhan Agung Raka, sering melanglang buawana ke luar negeri, seperti misalnya; ke Italy, Jerman, London, Prancis, di bawah pimpinan langsung Agung Raka. Tahun 2000 Agung Raka meninggal dunia, dan selanjutnya kesenian di Saba di teruskan oleh anaknya yaitu I Gusti Ngurah Serama Semadi, yang lebih dikenal dengan sebutan Anak Agung Ngurah Rai Saba, sebutan ini adalah karena orang Puri. Keberadaan legong Saba tetap seperti sebelumnya, dan selalu membentuk regenersi demi tetap eksisnya legong Keraton Saba. Agung Rai ikut membantu ayahnya mengajar Legong sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Di Saba ada beberapa jenis Legong dilihat bdari judul yang digunakan, yaitu : 1. Legong Keraton Lasem, 2. Legong Keraton Sudarsana, 3. Legong Keraton Candrakanta, 4. Legong Keraton Semara Dahana, 5. Legong Keraton, Kupu-Kupu Tarum, 6. Legong Keraton Kuntir (Kutir), 7. Legong Keraton Legod Bawa, 8. Legong Keraton Bapang, 9. Legong Keraton Jobog. Semua jenis Legong ini pernah ada di Saba, tetapi sekarang yang biasa dipentaskan adalah Lasem, Jobog, Semara Dahana, Bapang, Sudarsana, dan Candrakanta. Adapun beberapa jenis legong ini juga diajarkan di SMK. Negeri 3 Sukawati, seperti misalnya : Legong Lasem, Legong, Kuntir, Legong Bapang dengan memakai gaya yang memang ada di KOKAR yang sekarang bernama SMK. Negeri 3 Sukawati. Menurut I Gusti Gede Raka (Alm), Legong memang berasal dari Sukawati, tetapi setalah berkembang ke Saba, ke Peliatan, ke Badung, dan yang lainnya, maka akhirnya muncul stile-stile yang kemudian menjadi ciri khas daerah masing-masing. Selajutnya I Gusti Gede Raka mengatakan legong yang didapatkan di Sukawati adalah; Legong Lasem, Kuntir, Kupu-kupu Tarum, Jobog. Jenis Legong seperti; Legong Sudarsana, Semara Dahana, Legod Bawa, Candrakanta adalah lahir di Saba. Saba bukan saja mampu mempertahankan seni tari kelasik Legong Keraton tetapi juga sering terlibat dalam kolaborasi seni dengan Composer dari jerman dengan sebuah garapan yang berjudul Bali Agung 1976. Tahun 1987 membuat kolaborasi denga grup dari prancis, dengan judul Fust et Rangda, dimana Agung Rai berperan sebagai penggarap karawitan Bali, sebagai pengarap tari, dan juga bersama-sama pihak sutradara dari perancis ikut mengolah cerita Fust untuk bisa singkrun dengan keagung serta keangkeran Rangda dalam cerita Calonarang di Bali. Garapan Fust et Rangda, sebelum berangkat ke Perancis di pentaskan keliling Jawa, yaitu; di Taman Ismail Marzuki, di SMKI Yogyakarta, di Padaan Surabaya, dan juga di SMKI Bandung. Tahun 1991 lagi membuat kolaborasi dengan grup dari Jerman yang juga memakai judul Bali Agung, di sini Agung Rai berperan sebagai penggarap karawitan Bali, dan juga sebagai penari. Kolaborasi ini kemudian di pentaskan di Jerman. Saba di samping melestarika kesenian Legong Keraton, di Saba juga ada kesenian Topeng (dramatari Topeng), ada kesenian Wayang Kulit yang dalangnya adalah I Gusti Ngurah Serama Semadi, dan juga ada kesenian Kecak (Cak), semua kesenia tersebut adalah hasil Agung Rai. Di bawah tahun 1930-an gambelan Legong Saba menggunakan seperangkat gambelan Semar Pegulingan, dan selanjutnya sekitar di atas tahun 1930-an memakai seperangkat gambelan Gong Kebyar. Mengingat kebesaran Legong Saba pada jaman dahulu pernah menggunakan Semar Pagulingan, maka I Gusti Ngurah Serama Semadi membeli seperangkat gambelan Semar Pegulingan untuk mengiringi tari Legong Keraton Saba yaitu tahun 2005. Dari tahun 2005 dan seterusnya Legong Saba diiringi dengan seperangkat gambelan Semar Pagulingan.

Wahh
BalasHapusMaknyus
BalasHapusNicee
BalasHapusMed be komen nok
BalasHapusAjarin😕
BalasHapusGuddd
BalasHapusBagus
BalasHapus