Jumat, 16 Februari 2018

Joged Pingitan

Joged Pingitan muncul di Bali sekitar tahun 1889.Disebut Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada bagian-bagian yang dilarang (dipingit) yaitu pengibing hanya bisa menari untuk dapat mengimbangi gerak tari yang ditimbulkan oleh penari joged dan tidak boleh menyentuh penarinya. Dalam pementasan Seka Joged Pingitan mencoba menyajikan gambaran utuh akan rangkaian prosesi tarian joged ini, termasuk upacara yang mengawali tarian, seperti pengasepan dan canang rebong, dan para pengiring.





Para penaripun tidak muncul dari belakang panggung, melainkan langsung dari sisi kiri, menyatu dengan penonton. Prosesi pemakaian gelunganpun dilakukan di panggung.
Dalam pementasan mereka, tarian dibagi dalam dua karakter berupa pengelembur dengan dua tarian, Tari Bapak Gede dan Tari Bapang Cenik, serta pelakonan atau pendraman.

Biasanya, Joged Pingitan ditarikan setahun sekali bersamaan dengan Pujawali di Pura Taman Lumut Pengosekan, diiringi dengan Gamelan Tingklik Bambu. Penari joged pingitan generasi terakhir, sekitar tahun 1950-an adalah Ni Nyoman Lati.